Minggu, 23 November 2014

PELAJARI HIDUP INI

Suatu saat nanti setelah penulis tidak ada lagi, mungkin tulisan ini akan di baca.

Memang kita tidak pernah minta untuk dilahirkan kedunia ini, merasakan pahit getirnya kehidupan ini. Tapi kita beruntung bisa merasakannya, mengalaminya karna kita akan menjumpai kehidupan lain yang berbeda dimensinya dengan kehidupan kita sekarang ini. Dari dimensi/keadaan yang sama sekali kita tidak mengenalnya, merasakannya, manakala jasad  atau wujud dohir kita masih berupa zat/unsur dalam alam raya ini dan roh kita yang masih dalam genggaman kekuasaannya entah berada dimana kala itu, bisa jadi bagian dari tubuh kita saat itu berada di dalam seonggok padi yang dimasak dan dimakan oleh orang tua kita kemudian menjadi sel telur dan jadilah kita dalam kandungan Bunda Orok yang bergerak-gerak karna dilekkannya ruh di dalamnya. Apakah saat itu kita merasakannya ?.
Kalau merasakan dan menyadarinya tentu kita tidak mau menyusahkan Bunda maka pelajarilah  hal-hal yang demikian itu. Betapa Bapak kita bersusah-payah demi menghidupi kita yang masih berada dalam kandungan sang Istri tercinta. Apakah kita tau, apakah kita mengerti ?.
Kita tau kita paham setelah kita mempelajari dan mengalaminya di kehidupan dunia ini. Betapa menjadi seorang Ibu yang mengandung Si Jabang bayi begitu susahnya sembilan bulan masanya itupun baru se-orang anak doang lha kalo se-belas anak tinggal ngalikan aja kan ? berapa tahun tuh ? sedeng seorang penabuh dram band aja merasa kecapekan untuk show yang nggak nyampe seharian itupun plus angpao atau uang makan baru mau ngegendong drumnya. Tapi yang jelas kita dulu bukanlah Drum yang dipukul-pukul begitu sadis bener, tapi ya teteplah kita tak mau tau akan keadaan orang tua kita karna kita belum ada di dunia.
Nah setelah kita hidup dan hirup udara dunia ini kita harusnya mempelajari tentang kehidupan ini karna kesempatan kita hanya sekali ini ya di dunia ini untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dikehidupan yang akan datang (setelah kehidupan kita di dunia ini.) Supaya kita tidak menyesali perbuatan kita seperti ketika kita nakal saat dikandungan Bunda dan baru menyadarinya ketika kita menjadi seorang Bunda atau menjadi Bapak yang harus menghidupi Istri dan bakal anaknya.
Bisa jadi mereka yang di alam sana di alam kematian mereka hidup dengan dimensi yang lebih canggih lagi dari pada dimensi kita di dunia ini, mereka tau tentang kita melebihi pengetahuan kita kepada janin anak-anak kita. Dengan peralatan kedokeran yang canggih kita bisa mengetahui pergerakan janin bakal anak kita lewat layar monitor. Tapi mereka yang disana entah peralatan apa yang dipakai untuk memonitor kita yang didunia ini, yang jelas berbeda sekali dengan peralatan duniawi kita. karna  penulis belum mati, kalo mati mah nggak bisa nulis,ya to ?
Pelajari cara hidup yang baik agar menghasilkan kehidupan yang baik, bilamana kehidupan di dunia ini baik hasilnya tentu di kehidupan kemudian akan baik, ibarat kita menanam tumbuh-tumbuhan ; tanam jagung tentulah berbuah jagung masak tanam jagung berbuah mangga, Impossible.
Menanam tentu harus ada ilmunya dan tidak selamanya dalam masa menanam itu mulus apaplagi musim/cuaca tidak menentu seperti saat ini, yah kadang kehidupan ini enak kadang gak enak lumrah itu yang penting hasil panennya itu lho jangan sampai menanam jagung kok panen selain jagung.
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama. Kita hidup tanpa mengenal apa itu ilmu agama mudah-mudahan kehidupan kita sia-sia. Karna ilmu agama menuntun rohani kita yang menggerakkan jasmani kita. Sesungguhnya sesuatu yang haq/benar dan yang batil/salah  itu jelas adanya, hanya kita-kita aja yang cuek ato masa bodoh atau kita ditipu oleh sesuatu yang kita tidak menyadarinya sehingga kita jadi getun/ menyesal dibelakang hari, bendole blankon iku enek mburi , lek neng ngarep iku jenenge Pencu
Sekian .

Jumat, 27 Januari 2012

HIDUP DI ZAMAN EDAN

Kata orang saat ini adalah zaman kalabendu zamane wong edan. Edan  sama arti dengan gila, gendeng, bento (trusno dw).
Kita banyak disuguhi tontonan yang bukan lagi tuntunan. Banyak dari waktu yang kita miliki kita pake menonton didepan tivi dan sedikit dari waktu yang kita punya kita pake menonton diri sendiri.
Kita tertawa melihat kejadian jenaka sehingga lupa mentertawai diri sendiri yang lebih lucu ketimbang apa yang kita tonton.
Kita sedih terharu melihat kejadian nelangsa,tragis. Tapi kita hanya terpaku, terpana tanpa bisa berbuat apa-apa
Selama ini kita (Eh saya, maaf) terlalu banyak membaca koran majalah, tapi jarang membaca apalagi memahami al-qur'an atau ayat suci. Membaca dan memahami Kitab suci kita..
Saya bila ditanya

Senin, 30 Mei 2011

PESAN SEORANG AYAH PADA ANAKYA

Usia ayah semakin senja
Bila ayah dalam keluarga diibaratkan sebagai seorang sopir maka perlu kalian ketahui bahwa jalan yang ayah lalui sekarang adalah jalan yang bergelombang banyak berlubang. Banyak kendaraan yang berebut mencari jalan yang enak untuk dilalui, tak mempedulikan rambu aturan berkendara, menang sak karepe dewe tak mempedulikan wong cilik mentang-mentang dirinya besar inginnya menguasai jalan, sok jago mbalap, gak peduli sama yang lain, acuh, cuek dan itulah keadaan zaman yang terjadi saat ini, itulah jalan yang sedang kita lewati dan lihatlah disaat seperti ini cuacapun tak gampang untuk dimengerti, kadang tiba-tiba hujan lalu jalanpun menjadi becek tak karuan. Jalanan yang berlubang dipenuhi air yang kadang menjebak kita karna dalamnya lubang jalan itu. Sebentar kemudian banjir memenuhi badan jalan, lalu "crat" air mumprat mengenai kita. Kemudian kita terguncang terperosok lubang jalanan, bolehlah badan bergoyang tapi bijaksanalah bila bergoyang kepala.
Bagaimana ayah harus sabar mengendalikan kendaraan yang kini kita naiki, sedang gelap malam sebentar lagi datang.
Mari kita menyadari, tahu diri, siapakah kita ?, dimanakah kita ?, untuk apakah perjalan kita ini, kemana tujuan yang kita ingini ?.
Bisa jadi perjalanan yang kita tempuh akan memakan waktu lama, perjalanan yang akan kita lalaui panjang dan berliku, naik, turun, melewati jurang melewati jembatan, melewati sepi melewati macet dan kalian akan tahu nanti betapa ego mempermainkan kita yang menyetir kendaraan kita, maka kembalilah ingat, ingat pada pengatur, pemilik dan penguasa kesemua ini. Paham kan maksud ayah, yah eling lah pada sang gusti kemudian bersikaplah ksatria sebagai anak ayah: sigap, tanggap, bijaksana dalam bertindak, gunakan akal dan berpikirlah yang baik. Jadilh anak ayah yang berani karna benar dan takut karna salah maka jujurlah dan jauhi kebohongan. Jujurlah pada diri sendiri demi kebahagiaanmu kelak. Biasakanlah berbuat baik, baik pada orang tua, baik pada keluarga, baik kepada tetangga, baik kepada semua orang, mumpung kalian masih muda, masih banyak kesempatan untuk berjuang dan berusaha berjasalah pada semua orang, pada alam, lingkungan yang kita tempati agar hidup kita nyaman tenteram. Tak mudah memang, tapi biasakanlah dan nanti akan bisa.
Ingat pesan ayah. "BISA KARNA BIASA". Lihatlah betapa berat beban yang dipikul tukang batu naik turun bukit diperkampungan lereng gunung itu toh mereka bisa, yah karna mereka biasa. Tapi bila kalian mengangkat suatu beban haruslah kalian ketahui kekuatan kalian, berapa berat beban yang bisa kalian pikul, janganlah dipaksakan memikul berat beban yang berlebihan, semua ada ukuran dan takaran, sekali lagi ego ikut mempermainkan peranan.
Maka dari itu BELAJAR ITU PENTING dan yang paling penting dalam belajar adalah BELAJAR HIDUP BENAR sejak mulai kita hidup sampai kita mati, sejak mulai bangun sampi kita tidur, sejak sekarang sampai nanti.
next.... wait at moment. Sabar