Usia ayah semakin senja
Bila ayah dalam keluarga diibaratkan sebagai seorang sopir maka perlu kalian ketahui bahwa jalan yang ayah lalui sekarang adalah jalan yang bergelombang banyak berlubang. Banyak kendaraan yang berebut mencari jalan yang enak untuk dilalui, tak mempedulikan rambu aturan berkendara, menang sak karepe dewe tak mempedulikan wong cilik mentang-mentang dirinya besar inginnya menguasai jalan, sok jago mbalap, gak peduli sama yang lain, acuh, cuek dan itulah keadaan zaman yang terjadi saat ini, itulah jalan yang sedang kita lewati dan lihatlah disaat seperti ini cuacapun tak gampang untuk dimengerti, kadang tiba-tiba hujan lalu jalanpun menjadi becek tak karuan. Jalanan yang berlubang dipenuhi air yang kadang menjebak kita karna dalamnya lubang jalan itu. Sebentar kemudian banjir memenuhi badan jalan, lalu "crat" air mumprat mengenai kita. Kemudian kita terguncang terperosok lubang jalanan, bolehlah badan bergoyang tapi bijaksanalah bila bergoyang kepala.
Bagaimana ayah harus sabar mengendalikan kendaraan yang kini kita naiki, sedang gelap malam sebentar lagi datang.
Mari kita menyadari, tahu diri, siapakah kita ?, dimanakah kita ?, untuk apakah perjalan kita ini, kemana tujuan yang kita ingini ?.
Bisa jadi perjalanan yang kita tempuh akan memakan waktu lama, perjalanan yang akan kita lalaui panjang dan berliku, naik, turun, melewati jurang melewati jembatan, melewati sepi melewati macet dan kalian akan tahu nanti betapa ego mempermainkan kita yang menyetir kendaraan kita, maka kembalilah ingat, ingat pada pengatur, pemilik dan penguasa kesemua ini. Paham kan maksud ayah, yah eling lah pada sang gusti kemudian bersikaplah ksatria sebagai anak ayah: sigap, tanggap, bijaksana dalam bertindak, gunakan akal dan berpikirlah yang baik. Jadilh anak ayah yang berani karna benar dan takut karna salah maka jujurlah dan jauhi kebohongan. Jujurlah pada diri sendiri demi kebahagiaanmu kelak. Biasakanlah berbuat baik, baik pada orang tua, baik pada keluarga, baik kepada tetangga, baik kepada semua orang, mumpung kalian masih muda, masih banyak kesempatan untuk berjuang dan berusaha berjasalah pada semua orang, pada alam, lingkungan yang kita tempati agar hidup kita nyaman tenteram. Tak mudah memang, tapi biasakanlah dan nanti akan bisa.
Ingat pesan ayah. "BISA KARNA BIASA". Lihatlah betapa berat beban yang dipikul tukang batu naik turun bukit diperkampungan lereng gunung itu toh mereka bisa, yah karna mereka biasa. Tapi bila kalian mengangkat suatu beban haruslah kalian ketahui kekuatan kalian, berapa berat beban yang bisa kalian pikul, janganlah dipaksakan memikul berat beban yang berlebihan, semua ada ukuran dan takaran, sekali lagi ego ikut mempermainkan peranan.
Maka dari itu BELAJAR ITU PENTING dan yang paling penting dalam belajar adalah BELAJAR HIDUP BENAR sejak mulai kita hidup sampai kita mati, sejak mulai bangun sampi kita tidur, sejak sekarang sampai nanti.
next.... wait at moment. Sabar